This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

SENKOM MITRA POLRI KABUPATEN PACITAN MENGUCAPKAN DIRGAHAYU KE 267 KABUPATEN PACITAN DENGAN HARI JADI KITA SATUKAN TEKAD DAN LANGKAH DEMI TERWUJUDNYA PACITAN YANG LEBIH SEJAHTERA

Senin, 05 Maret 2012

KONSOLIDASI & PELATIHAN TELEMATIKA

SENKOM KABUPATEN PACITAN - Konsolidasi Organisasi serta pelatihan telematika Senkom Mitra Polri Provinsi se-Jawa Timur yang dilaksanakan di Jombang [3 Maret 2012] diikuti peserta dari 29 kabupaten dan 9 kota yang diwakli oleh ketua, sekretaris,bidang telematika dan dua orang anggota Senkom Mitra Polri beserta pembina masing-masing kabupaten atau kota.

Konsolidasi dibuka oleh Ketua Umum Senkom Mitra Polri HM Sirot SH,SIP dilanjutkan pengarahan dari Pembina Senkom Mitra Polri. Konsolidasi ini adalah untuk meningkatkan kinerja organisasi Senkom Mitra Polri provinsi Jawa Timur yang sekaligus dikemas dengan pelatihan telematika penggunaan alat komunikasi Eqso.

"Anggota Senkom Mitra Polri agar meningkatkan tugas dan kewajiban untuk selalu membantu kamtibmas dan selalu memberikan informasi adanya gangguan kamtibmas pada kepolisian terdekat serta pihak pemerintahan di masing-masing tingkatannya," kata H. Moh. Sirot.

Sesi pelatihan telematika disampaikan oleh pengurus pusat bidang telematika Rudi STU diikuti dengan sangat antusias oleh peserta. (artikel senkom sidoarjo edited by sulaiman)

Minggu, 19 Februari 2012

TANAH LONGSOR

Longsoran merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng. Penyebab longsoran dapat dibedakan menjadi penyebab yang berupa :


•Faktor pengontrol gangguan kestabilan lereng.
•Proses pemicu longsoran.

Gangguan kestabilan lereng ini dikontrol oleh kondisi morfologi (terutama kemiringan lereng), kondisi batuan ataupun tanah penyusun lereng dan kondisi hidrologi atau tata air pada lereng. Meskipun suatu lereng rentan atau berpotensi untuk longsor, karena kondisi kemiringan lereng, batuan/tanah dan tata airnya, namun lereng tersebut belum akan longsor atau terganggu kestabilannya tanpa dipicu oleh proses pemicu.

Proses pemicu longsoran dapat berupa :
•Peningkatan kandungan air dalam lereng, sehingga terjadi akumulasi air yang merenggangkan ikatan antar butir tanah dan akhirnya mendorong butir-butir tanah untuk longsor. Peningkatan kandungan air ini sering disebabkan oleh meresapnya air hujan, air kolam/selokan yang bocor atau air sawah kedalam lereng.
•Getaran pada lereng akibat gempa bumi ataupun ledakan, penggalian, getaran alat/kendaraan. Gempa bumi pada tanah pasir dengan kandungan air sering mengakibatkan liquefaction (tanah kehilangan kekuatan geser dan daya dukung, yang diiringi dengan penggenangan tanah oleh air dari bawah tanah).
•Peningkatan beban yang melampaui daya dukung tanah atau kuat geser tanah. Beban yang berlebihan ini dapat berupa beban bangunan ataupun pohon-pohon yang terlalu rimbun dan rapat yang ditanam pada lereng lebih curam dari 40 derajat.
•Pemotongan kaki lereng secara sembarangan yang mengakibatkan lereng kehilangan gaya penyangga.

Strategi dan upaya penanggulangan bencana :
1.Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama lainnya
2.Mengurangi tingkat keterjalan lereng
3.Meningkatkan/memperbaiki dan memelihara drainase baik air permukaan maupun air tanah. (Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan airn dari lereng, menghidari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah).
4.Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling
5.Terasering dengan sistem drainase yang tepat.(drainase pada teras - teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah)
6.Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan , di bagian dasar ditanam rumput).
7.Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat
8.Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan
9.Pengenalan daerah rawan longsor
10.Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall)
11.Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah.
12.Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction(infeksi cairan).
13.Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel
14.Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan.
Sumber : www.basarnas.go.id

GAMBARAN UMUM PACITAN

Kabupaten Pacitan terletak di sebelah barat daya Provinsi Jawa Timur mempunyai luas wilayah administratif sekitar 1.389,87 km2. Kabupaten Pacitan terletak di pesisir pantai Selatan Pulau Jawa pada posisi antara 7.55o - 8.17o LS dan 110.55o BT, 111o55 o – 111.25 o BT.

Kabupaten Pacitan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah disebelah barat, sebelah utara Kabupaten Pacitan berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Wonogiri, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek dan sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Jumlah penduduk Kabupaten Pacitan Tahun 2010 berjumlah 558.644 jiwa. Kepadatan Penduduk terbanyak berada pada Kecamatan Pacitan dengan kepadatan penduduk 849 jiwa/km2 dengan cakupan wilayah kecamatan mencapai 77.11 km2.

Kabupaten Pacitan memiliki topografi datar hingga bergunung, dengan elevasi tertinggi 1.200m di atas permukaan air laut (Kecamatan Bandar, Gunung Gembes). Wilayah Kabupaten Pacitan dengan kondisi topografi bergunung terutama terletak di bagian utara DAS Grindulu, meliputi Kecamatan Nawangan, Bandar, Tegalombo dan sebagian Kecamatan Arjosari (Kabupaten Pacitan).

Topografi berbukit mencakup wilayah bagian tengah sebagian Kecamatan Tegalombo, Arjosari dan wilayah barat di kecamatan Donorojo, Punung dan Pringkuku serta di wilayah timur Kecamatan Tulakan, Ngadirojo dan Sudimoro. Sedangkan daerah dengan topografi datar terdapat di sebagian sekitar Kota Pacitan, Arjosari dan Kebonagung.

Kabupaten Pacitan didominasi oleh lahan dengan kondisi topografi berbukit dengan kemiringan 31 – 50% seluas 722.73 km2 (52%), bergelombang dengan kemiringan 11 – 30% seluas 333.57 km2 (24%). Sisanya merupakan daerah bergunung dengan kemiringan lahan lebih dari 51% (10%), daerah berombak dengan kemiringan lahan 6-10% seluas 138.99 km2 (10%) dan daerah dataran dengan kemiringan 0 – 5% seluas 55.59km2 (4%). (Kabupaten Pacitan Dalam Angka 2009).

Wilayah dengan kondisi topografi di atas sangat besar pengaruhnya terhadap fenomena alam dan dampaknya terhadap kejadian banjir dan tanah longsor di daerah hulu dan hilir.

GEOLOGI

a. Geomorfologi

Secara regional kondisi geomorfologi Kabupaten Pacitanter letak dalam zona fisiografi pegunungan Selatan JawaTimur (van Bemmelen, 1949), berkisar dari 25 – 55 km, sedangkan untuk Kabupaten Pacitan antara 14 – 29 km.

b. Satuan Perbukitan dan Pegunungan Batuan Gunung Api Tua

Daerah perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan lereng antara 25 – 40%, dan mencakup hampir 70% dari Kabupaten Pacitan. Bagian timur laut Kecamatan Donorojo, bagian utara Kecamatan Punung, Pringkuku, Pacitan, dan Arjosari, sebagian besar Kecamatan Kebonagung dan Tulakan, bagian utara Kecamatan Ngadirojo dan Sudimoro, serta seluruh wilayah Kecamatan Nawangan, Bandar dan Tegalombo.

c. Satuan Perbukitan Kars

Satuan ini tersebar di bagian selatan, sekitar 25% dari luas Kabupaten Pacitan, meliputi hamper seluruh wilayah Kecamatan Donorojo, Punung bagian barat daya, Pringkuku bagian selatan, Pacitan sebelah barat dan tenggara, Kebonagung bagian utara, barat daya dan tenggara, Tulakan bagian utara dan selatan, Ngadirojo bagian selatan, serat Sudimoro bagian selatan. Daerah perbukitan tersebut mempunyai kemiringan 20 – 400, tersebar di daerah terra rosa (lempung yang berwarna coklat kemerahan) sebagai sisa hasil pelapukan batu gamping. Gejala tersebut menunjukkan stadia erosi dewasa.

d. Satuan Dataran Aluvial

Satuan ini berkembang di daerah aliran Sungai Grindulu, Asem Gandok di Kecamatan Arjosari dan Pacitan, serta pantai Pacitan, sungai dan panatai Pagotan Kecamatan Ngadirojo, Sungai Lorog serta pantai di teluk Damas Kecamatan Ngadirojo. Stadia erosinya termasuk dewasa, dengan adanya dataran banjir yang luas dan sungai yang dangkal, serta pola sungai bermeander.

e. Formasi batuan

Formasi batuan yang terletak selaras di atas semua formasi berumur Oligo-Miosen tersebut adalah Formasi Semilir (Tms) yang kearah lateral berubah menjadi Formasi Jaten (Tmj). Formasi Nglanggran terletak selaras diatas Formasi Semilir dan kerah lateral berubah menjadi Formasi Jaten (Sampurno dan H.Samodra, 1997). Formasi berikutnya adalah Formasi Wuni (Tmw), yang berada selaras diatas Formasi Jaten dan kearah lateral berubah menjadi Formasi Nampol (Tmn). Formasi Wuni dan Nampol ini kearah lateral menjadi Formasi Wonosari (Tmwl) dan Oyo (Tmo) (Surono dkk, 1992). Formasi Oyo berada selaras diatas Formasi Nampol dan kerah vertikal serta lateral berubah menjadi Formasi Wonosari (Tmwl) (Samodra dkk, 1995). Tidak selaras diatas Formasi Wonosari adalah Formasi Kalipucang (Qpk) (H. Samodra dkk, 1992). Endapan teras terletak tidak selaras diatas Formasi Kalipucang (Sartono, 1972, dalam Bartstra, 1976). Endapan aluvial (Qa) merupakan batuan termud di Kabupaten Pacitan (H.Samodra dkk, 1992).